Hidup…..

Tak ada yg lebih indah selain memilikiMu
Tak ada yg lebih baik selain mengenalMu
Tak ada yg lebih istimewa selain mendekatiMu
Tak ada yg lebih membanggakan selain selalu mengikutiMu
Tak ada yg lebih santai selain bersamaMu
Tak ada yg lebih mengerti aku selainMu

Ijinkan aku untuk melakukan segalanya karenaMu
Ijinkan aku untuk terus berharap padaMu
Ijinkan aku untuk tak pernah lupa akanMu
Ijinkan aku untuk terus cinta padaMu
Ijinkan aku untuk hanya berbagi padaMu

Terima kasih untuk tak pernah meninggalkanku walau aku tau betapa banyak salahku
Terima kasih untuk selalu mengingatkanku akan kebaikkanMu
Terima kasih untuk selalu ada di hatiku
Terima kasih untuk selalu memenuhi jiwaku

Hanya Engkaulah tempat ku bernaung dan…
Hanya kepada Engkau-lah aku akan kembali……

Dandelion

Bisakah rasa seperti itu???

Andai saja rasa bisa bagai Dandelion

Mungkin aku tak seperti ini

Pergi…..

Terbang…..

Menghilang……

Menyernyitkan dahi hanya sekedar bertanya

“Aku ini apa?”

Bukan lagi siapa, tanya ku

“It’s not the point”

Apa aku di hidupmu?

Begitu bising kabel kabel di otakku beradu

Aku ini apa di hidupmu?

Beradu antara hati dan pikiran

Aku indahkan, mungkin aku memang lelah

Kata demi kata beterbangan di alam

Tersendiri dalam kepalaku

Ingin ku tangkap dan rangkai bak memecah

Misteri puzzle

Kenapa aku tak mampu?

Sulitkah?

Atau aku yang mempersulit?

Tentu dia benar, biarkan kata kata itu

Terbang bagai

Dandelion……

Jujur sajah

Jujur aku lebih memilih diam daripada disalahkan. Kejadian itu seperti sinetron yang tayang ulang. Lelah memang….

Sebenarnya aku tak berharap banyak karena aku sadar, aku pun bukan orang yang pantas diharapkan. Ribuan kata indah yang kau lontarkan bak peluru nyasar di pikiran ku. Nyasar yang entah kemana…….

Sejenak mengingat kejadian 3 tahun silam. Kejadian yang membuatku banyak banyak menghela nafas, walau jika di ingat bernafas pun terasa susah.

Ah…..indahkan kejadian yang tidak mengenakkan itu.

Aku mulai ingin jujur walau terkadang sulit kubayangkan. Dan pasti akan ada yang tidak enak dengan keputusan ku ini.

Yakinkah ini keputasanku atau….keputusasaanku?

Ah aku lelah dengan seruan itu di kepala ku. Kembali aku hanya ingin jujur……

Setidaknya aku ingin jujur padaMu Tuhan….

Kala ini…..150520

Kasih (an…..)

Di malam ini di atas sofa tosca yang empuk akhirnya seseorang yang kutunggu tunggu datang dihadapanku bersama senyum yang selalu kurindukan.

“Nih kopi susu kesukaan mu, kalo aku kopi hitam selalu” kataku
 “Kamu minum dulu.” Pintanya

Lalu ku teguk tanpa bertanya apa apa. Kemudian dicarinya tempat dimana aku menaruh bibir di gelas itu lalu disana dia mulai meminumnya. Romantis bukan. Aku di buat terlena dengan sikapnya. 

“Kamu pasti capek ya?” Tanyaku
“Kamu hari ini ngapain aja?” Tanya nya dengan mengabaikan pertanyaanku
“Hmmmmm…..aku bersih bersih terus masak untuk pujaanku” jawab ku
 “Bagaimana urusan kantor?” Tanya ku kembali

Dia terdiam tak serta merta mengeluarkan setiap kata untuk menggambarkan kepenatan harinya.
Aku sangat menghargainya dan sangat memahaminya. Otakku memberi ide untuk mengalihkan pembahasan yang membosankan  ini.

“Sayang kamu inget gak dulu kalo abis apelin aku, aku selalu minta kamu untuk telpon aku?”

Wajah nya kembali memerah dan bersemangat.

 “Tentulah aku ingat, tapi….kenapa kamu selalu minta aku untuk menelponmu sedang aku baru saja dari rumahmu cukup lama?” Pungkasnya
“Itu karena aku khawatir ada apa apa sama kamu di jalan.” Jawabku

Sebenarnya jawabanku itu sangatlah konyol mengingat jarak dari rumahnya ke rumahku hanya 5 menit jalan kaki.
Cinta….cinta…terkadang memang buat gila.

Lalu ku sodorkan makan malam. Saat itu aku membuatkan nya sop dan udang goreng. Walau ku tau masakanku tak selezat resto padang tapi aku bangga membuatnya.

 “Yaang masakanmu enak banget.” Rayunya
 “Masakan ku itu biasa mas cuma aku kasih bubuk cinta yang banyak makanya jadi enak banget” jawabku

Lalu dia memintaku untuk menyuapinya. Sambil bercerita ringan mengingat masa lalu indah kita dan betapa sulitnya dia mendapatkan ku.
Makan malam pun selesai. Dia terdiam. Kubiarkan dia dengan lamunannya dan aku kembali membersihkan segala yang tersisa.

“Sudah bengongnya?” Ejekku sambil nyengir

Balasannya hanyalah senyum indah yang selalu kurindukan. Aku mulai mendekati dan mengusap lembut rambutnya yang sudah tidak lagi hitam sempurna. Usapan ku ternyata membuat matanya berkedip kedip menandakan kelelahan nya. Dengan humming sambil terus mengusap usap kepalanya hingga dia tertidur.
Kutatap tiap milimeter wajah nya

Ya….Rabb berikanlah kekuatan baginya serta berikan dia kesabaran untuk melalui ini semua. Aku sangat menyayanginya kumohon lindungilah dia. Engkau yang maha sempurna, hanya padaMu kutitipkan jiwa raganya. Pintaku dalam heningnya malam. 

Kubiarkan dia dalam lelap hening nya malam. Malam itu tidak seperti biasanya. Udara begitu dingin. Aku mulai mencium kening nya lalu mencium pipinya dengan niat membangunkan nya. 

“Yaang pindah di kamar y….” pintaku

Dia terbangun bagai robot yang diatur dengan pengendali. Tampak lucu kulihat nya. Dan dia pun langsung terbaring diatas kasur empuk serta melanjutkan dengkuran nya, dan aku kembali menyendiri di sofa tosca nan nyaman.

Aku seorang wanita biasa  bernama Kasih dan dia bernama….ah sudahlah, panggil saja “mas” karena biarkan namanya terukir dalam hatiku sehingga aku tak kan malu padaNya jika selalu kusebut nama “mas”.

Aku yang terbiasa selalu tidur larut mulai mencari cari aktifitas. Aku putuskan untuk mengambil buku words search dan mulai mengerjakan. Membayangkan menjadi detektif yang harus memecahkan setiap kata kata misteri betapa konyol nya khayalanku ini. Keasyikkan membuat aku lupa waktu dan aku memutuskan untuk tidur. 

******

Pagi itu bangunku sangat segar dan semangat, udara yang tidak kalah segar menandakan semalam ada hujan yang berkunjung. Kegiatan pagiku dengan membuatkan sarapan untuknya. Saat itu aku membuat pancake dengan diberikan madu di atasnya. Sambil kembali lagi bercerita ringan tak butuh lama mobil tua telah menunggu lama untuk jalan bersama menelusuri hari. Dia pun pamit dengan segala berat tatapan menandakan ke-tidaksudian nya meninggalkan ku. Dia mulai mencium keningku.

 “Kau adalah tulang rusukku yang hilang dan kau adalah penyempurna hidupku” ucapan nya sebagai pamit sesaat.

Tidak butuh waktu lama dia pun tiba di kantor. Jika ada waktu istirahat dia akan mulai menelpon. Dengan segala perhatian yang ada dia mulai menanyakan pertanyaan pertanyaan klise. Sejenak dia pun terkadang whatsapp sekedar melaporkan kejenuhan serta kelelahan nya di kantor. Aku hanya bisa memberikan semangat dan membuatnya bersabar untuk melampaui hari itu. 

Tak terasa matahari mulai lelah menyinari bumi. Aku dengan kesendirianku menanti dan berharap dengan sabar akan datangnya senyuman yang selalu ku rindukan dan 
ciuman lembut di kening ini. Aku tau aku harus lebih bersabar dengan harapan dia baik baik saja dalam perjalanan. Handphone ku berbunyi kencang membangunkan lamunan akan dirinya yang kutunggu.

“Sayang…..maaf malam ini aku tidak ke rumah. Istriku sudah pulang dari dinasnya. Tapi yakinlah aku selalu mencintaimu, ku mohon jagalah cinta. Yakinlah bahwa aku akan kembali untukmu seutuhnya.”

Kelupaan atau di lupakan…

 

Kala itu langit mulai merubah warna awal yang begitu terang dan mulai meredup berganti kelam. Mulai ku hela nafas panjang membayangkan apa yang akan terjadi. Hugh…..kembali ku menarik nafas dan membuang nya selepas keinginanku. Beginilah hidup ku….pagi hari di sambut oleh asap asap yang tak mau bertanggung jawab akan keindahan dunia ini. Dan sekarang saat ini kembali ku di hadirkan asap asap itu. Tak dapat ku berkata hanya helaan nafas panjang yang mewakili perasaan ku. Mulai ku setubuhi kaki kaki pendukungku. Dia tidak lah bagus dan tidak lah mewah tapi sangat berarti buat ku. Ku mendapatkan nya dari tiap tetes tetesan keringat ku. Terima kasih silly. Nama yang aneh bukan? Silly silver lincah. Aku menyayangi nya di tambah lagi setiap kenangan kenangan indah pun terjadi di dalam nya. Mulai ku pijak sambil nafas panjang yang tak pernah putus lalu ku hempas kan. Lelah…. memang lelah dan aku tau ini tidak hanya dirasakan oleh ku. Kami….ya kamilah penghuni ibu kota ini. Suara teriakan kendaraan dan manusia seakan tak berbeda di pikiran ku. Semua tampak sama masuk dalam telingaku semua sangat memekakkan. Mulai ku lirik si hitam mungil di tangan kiriku seolah dia pun berteriak “sudah jam 7”. Kosong kulihat semua nya…..

Pikiran ini mulai menjalar dan membayang. Apa yang akan terjadi di rumah ku….. Home sweet home akan kah sulit bagiku. Apa aku kurang bersyukur atau malah aku di syukuri ah…entahlah. Tanpa kusadari teriakan kendaraan belakangku mulai menyeringai dengan cempreng nya. Yah aku di bangunkan oleh nya. Sejenak ku tertawa kecil. Langit yang kala itu mulai tampak lebih gelap dan semakin gelap. Ku tetap melaju dengan keamanan yang ku punya. Tibalah aku di hadapan pagar hitam. Itukah penjara dunia ku? Ku bertanya dalam hati dan ku cari jawabannya dalam hati…… Membayangi kata kata apa yang akan ku terima ketika awal langkah ku masuk. Adakah suara kecurigaan adakah lantunan ekonomi atau bisikan keluhan keluhan. Keringat dingin mulai menyetubuhi ku. Ya Tuhan kenapa seketika aku merasa sakit demam. Alhasil kaki ku lemas berat untuk melewati jeruji jeruji dunia itu. Tapi aku tau ini yang harus ku hadapi…. Akan ku hadapi dengan kepala tegak dan langkah pasti walau hati terasa berat. Ini….ini semua tak berarti bagi ku karena ku yakin aku orang baik dan Tuhan menjanjikan ku akan orang baik pula. Ini….ini semua tak ada apa apanya di bandingkan kecintaan Tuhan ku akan diri ku. Ini….ini semua nya tak kan mengusikku karena rasa sayangku memenuhi raga ini. Rasa sayang yang Tuhan titipkan padaku. Ku akan selalu melangkah dengan tegak karna Tuhan yang menopangku.

Hening nya malam….

Kenapa malam ini begitu hening ku rasa? Mulai bertanya lalu bingung untuk menjabarkannya. Adakah malam kelam ini mewakili hati ku? Pikiran ku melayang entah kemana melayangnya. Adakah bulan kala ini. Ku tatap langit yang kulihat hanya bintang gemintang. Kenapa tak ada bulan? Kemanakah kau pergi nya wahai bulan? Kau bersembunyi dan membagikan cahaya mu pada bintang. Ah…..indahkan saja bintang bintang itu. Bulan hadir di setiap cercah cahaya bintang. Kau malu mengungkapkan keindahan mu. Tapi cahaya mu mengisi setiap relung bintang.

Ada kerinduan mendalam dalam jiwa. Kerinduan yang hanya dimiliki ku saat ini. Tidakkah kau dapat memandang nya jiwa ini lelah wajah ini penuh dengan peluh. Kehidupan yang seolah tidak ada kebahagiaan. Adakah bintang membawa bahagia ku? Ah….sudahlah ku pikir. Aku tau dengan suasana hati ini. Ya…sangat tau. Ketika semua telah terlewati tetap memohon ada secercah kehidupan yang bermakna tersimpan di hati.

Wahai bintang gemintang tariklah aku mendekat padamu. Agar kulihat keindahan heningnya malam ini dari pengelihatan mu yang lepas. Pengelihatan yang penuh rasa syukur walau langitpun enggan menemani dengan pencahayaan nya.

Aku tidak sendiri dalam heningnya malam ini…..langit yang tak lagi bercahaya berkata dengan peluh air matanya. Hujan….itu lah air matanya. Kau mendengarku dan seolah ku di tarik oleh sang bintang agar bergumul dengan nya. Merenunglah bersama ku menangislah bersama ku dan kau tunjuk satu titik serta berucap “di situlah letak kebahagiaan mu maka raih lah dengan bersyukur” indah bukan?

Begitulah bintang menemani dalam keheningan malam….